Selalu and selalu dari dulu hingga sekarang gw tetep and kekeh dengan pendirian cari beasiswa Jepang!!!!! Dari kelas satu SMA terus2n browse mengenai scholarship...mulai dari soal2 and interview ma orang2 yang berpengalaman dibidangnye...ato cuman nyampe seleksinya doank...And untuk terus motivasi gw, gw post2 aja.. deh yang berkaitan dengan tuh scholarship....Barangkali temen2 MP juga mo bantu....mangga pisan diantos...
taken from this
Lulus SMA, mendapat kesempatan studi ke luar negeri
dengan beasiswa yang cukup merupakan impian sejak kecil. Apalagi dengan
beasiswa itu kami tidak hanya dapat hidup layak dan mandiri di luar
negeri, tapi juga bisa mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan,
mencicipi teknologi baru dan menambah wawasan lain. Selain juga karena
bisa segera hidup mandiri di luar negeri tanpa bergantung pada bantuan
keuangan dari orang tua menumbuhkan suatu kebanggaan di hati. Bahkan
sebaliknya, banyak dari kami menyisihkan sebagian dari beasiswa, untuk
membantu orang tua dan kakak/adik, memberi kesempatan berbakti kepada
orang tua, dan berbagi kebahagian dengan anggota keluarga lain.
Menggapai mimpi
Dari kecil, salah satu impian saya adalah sekolah ke
luar negeri. Sekolah di negara yang turun salju saat musim dingin tiba,
begitulah angan-angan saya dulu. Beruntung sekali saya memiliki orang
tua yang walau tidak mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke luar
negeri, namun selalu memompakan semangat dan motivasi untuk belajar
yang giat dan menyarankan untuk selalu mencari informasi beasiswa ke
luar negeri karena itulah jalan satu-satunya agar saya bisa sekolah di
luar negeri. Saat itu biaya kuliah belum semahal sekarang, toh kuliah
di PTS misalnya tampaknya memberatkan bagi keluarga kami. Terinsipirasi
kisah hidup orang tua yang selalu menceritakan bahwa dulunya dia sudah
bisa bekerja sejak lulus SMA, saya pun berniat untuk bisa mandiri sejak
lulus SMA. Saat itu lah, saya berpikir singkat mendapat beasiswa full
untuk kuliah di luar negeri adalah jalan singkat merealisasi niat dan
impian saya tersebut.
Saya percaya bahwa mimpi tidak akan datang sendiri
namun harus diperjuangkan. Usaha untuk meraihnya perlu diniati dan
disungguhi. Masuk SMA, saya mulai buka mata pasang telinga. Rajin
bertanya-tanya ke guru-guru di SMA, mencari-cari info di surat kabar
dimana saat itu internet belum ada. Tentunya akan sangat berguna jika
kita mencari informasi beasiswa mulai dari 2 tahun sebelum lulus SMA.
Minimal kita tahu keberadaan program beasiswa itu yang pada saatnya
setelah lulus SMA kita tahu kepada siapa kita harus mencari tahu
informasi beasiswa tersebut. Tinggal di Jakarta, saat kelas 3 SMA, saya
bahkan kadang datang atau menelpon ke Kedutaan Besar / Pusat Kebudayaan
Asing untuk sekedar bertanya apakah ada beasiswa yang tersedia untuk
lulusan SMA. Dengan adanya internet, mencari informasi beasiswa untuk
pelajar SMA sekarang terutama yang tinggal di luar Jakarta tampaknya
sudah tidak sesulit dulu.
Satu hal yang saya sayangkan, bahwa angan-angan untuk
kuliah di luar negeri tidak mendominasi di hati-hati teman-teman SMA
saya saat itu. Beberapa di antaranya bahkan sudah enggan saat saya ajak
untuk mencari informasi beasiswa. Belakangan hari, saat saya ikut
seleksi suatu beasiswa, saya juga tidak merasa bahwa finalis-finalis
yang ada saat itu benar-benar sungguh-sungguh ingin bisa kuliah di luar
negeri. Namun sebaliknya saya juga salut dengan alumni-alumni dari
sebuah SMA yang sangat bersemangat bersama-sama mencari
informasi-informasi tawaran-tawaran beasiswa yang ada.
Mendapat beasiswa
Lulus SMA, saya mendapat beasiswa full dari Mitsui
Bussan, sebuah perusahaan Jepang, untuk studi Bahasa Jepang dan kuliah
S1 di Jepang. Yang saya maksud dengan beasiswa penuh adalah beasiswa
yang terdiri dari gaji bulanan (monthly allowance) dan biaya
kuliah, karena ada beasiswa lain yang hanya memberikan gaji bulanan
saja. Dalam sistem seleksinya, Mitsui Bussan bekerja sama dengan
Dikdasmen dan eksklusif untuk SMA yang ditunjuk Dikdasmen. Hal ini
dilakukan untuk penghematan biaya pelaksanaan, karena hanya 2-3 pelajar
yang akan terpilih untuk menjadi penerima beasiswa ini.
Walau sayangnya program beasiswa Mitsui Bussan
berhenti mulai tahun ini, namun di sini saya tuliskan tahap-tahap
penyeleksian yang mungkin berguna untuk kesempatan lain. Materi seleksi
pertama adalah ujian tulis Matematika dan Bahasa Inggris. Dari seleksi
pertama terpilih sekitar 12-16 orang yang berhak ikut ujian kedua
berupa tes kesehatan, psikologi, maupun wawancara. Persiapan untuk
wawancara begitu penting, karena ini lah yang paling menentukan. Nilai
terbaik menjadi tidak berarti kalau anda dianggap sebagai orang yang
tidak komunikatif dan emosional.
Kondisi sepuluh tahun lalu mungkin berbeda dengan
sekarang. Namun saat itu tawaran beasiswa ke luar negeri yang tersedia
untuk lulusan SMA adalah ke Jepang untuk banyak bidang, dan Belanda
untuk bidang ekonomi. Belakangan ada tawaran beasiswa dari Singapura,
namun tidak beasiswa full dan informasinya tidak tersebar luas.
Beasiswa ke Jepang sendiri terutama dari Monbukagakusho melalui
Kedutaan Besar menyediakan beberapa jenis beasiswa untuk lulusan SMA
dan untuk lulusan S1. (Lebih lengkapnya lihat
http://www.id.emb-japan.go.jp/scholarship.html) untuk jelasnya. Dua hal
yang perlu saya tekankan di sini, pertama adalah sangat sulitnya untuk
lulus Program S-1 untuk kedokteran umum dan kedokteran gigi sehingga
dianjurkan untuk memilih jurusan lain bagi yang berminat dengan kedua
jurusan itu. Kedua adalah, saya pribadi tetap menganjurkan untuk
mengambil program D-3 walau di Indonesia sudah diterima di PTN-PTN
ternama, karena setelah lulus D-3 kesempatan untuk mendapatkan degree
bisa diperoleh dengan melanjutkan kuliah selama 2 tahun ke Universitas
(langsung tingkat 3). Apalagi kalau mengingat begitu mahalnya biaya
kuliah di Indonesia. Sebagai referensi, uang masuk di universitas
negeri di Jepang, sekitar 300.000 yen, sementara uang kuliah satu
semester 270.000 yen. Dibanding kuliah di luar negeri lain, Amerika
maupun Australia, biaya pendidikan di Jepang termasuk murah. Belum lagi
ditambah dengan adanya kemungkinan mendapat keringanan uang sekolah di
universitas negeri tertentu. Penulis sendiri mendapat kemudahan bebas
uang kuliah 100% selama lebih dari 3 tahun.
Untuk beasiswa program Pasca-Sarjanaa selain beasiswa
Monbukagakusho jenis G-to-G untuk pegawai negeri sipil dan jenis U-to-U
untuk umum, juga ada beasiswa Panasonic untuk program Master
http://www.panasonic.co.id/panasonic_scolarship/index.asp.
Beberapa hal yang mungkin menjadi pikiran saat
mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri adalah pertama apakah
adanya perjanjian seperti ikatan kerja setelah selesai program
beasiswa. Beasiswa yang saya sebut di atas, tidak ada yang memiliki
ikatan kerja. Untuk beasiswa lain, kalaupun ada perjanjian tertentu,
tentunya penerima beasiswa yang sudah lulus SMA maupun orang tuanya
sudah cukup dewasa untuk mengerti arti dan tanggung jawab sebuah
akad/perjanjian dengan menyatakan kesanggupannya menerima beasiswa
tersebut. Catatan lain adalah tentang jurusan- jurusan di universitas
di Jepang, yang tentunya belum tentu sama dengan apa yang ada di
Indonesia, juga dengan tingkat kesulitan masing-masing jurusan. Di
kampus saya, untuk undergraduate course, Jurusan Fisika di Fakultas
Science adalah jurusan yang banyak diminati, dan tempat berkumpulnya
mahasiswa pandai yang berminat di bidang Science maupun Engineering.
Bisa kita bandingkan dengan jurusan Fisika di fakultas MIPA di
universitas-universitas di Indonesia yang kurang diminati. Lulusan
Fakultas Science tentunya juga dapat masuk ke bidang-bidang Engineering
saat mencari kerja, dan juga sebaliknya. Sehingga kekhawatiran bahwa
lulusan Science sulit mencari kerja tentunya tidak terbukti. Apalagi
untuk negara seperti Jepang, dimana setiap perusahaan biasanya
mempunyai unit Research and Development yang tentunya membutuhkan
lulusan dari berbagai jurusan. Terakhir dan terutama mungkin,
kekhawatiran untuk memilih Jepang sebagai tempat studi memang
beralasan. Tentunya karena kesulitan bahasa Jepang yang menggunakan
kanji itu sendiri. Namun untuk masing-masing program beasiswa terutama
untuk beasiswa Monbukagakusho, biasanya juga mencakup studi bahasa
Jepang yang cukup untuk dapat mengikuti kuliah di universitas.
Tinggal di Jepang
Saya belum pernah tinggal di luar negeri selain
Jepang, namun dengan kemampuan berbahasa Jepang yang saya miliki, saya
merasakan kehidupan di Jepang begitu menyenangkan. Kekurangan dengan
tinggal di Jepang adalah tentunya berkurangnya kesempatan menggunakan
bahasa Inggris. Biaya hidup mungkin memang tinggi, tapi selama mendapat
beasiswa yang cukup rasanya itu bisa diakomodasi, termasuk di dalamnya
uang kuliah yang relatif murah kalau dibanding dengan di negara-negara
seperti Amerika, Inggris atau Australia. Kesempatan untuk bekerja paruh
waktu pun terbuka lebar. Kalau melihat perjuangan teman-teman dari Cina
maupun Korea misalnya, mereka rata-rata tidak mendapatkan beasiswa juga
tidak semua datang dari keluarga kaya, toh mereka bisa survive
tinggal di Tokyo misalnya. Tidak lain dan tidak bukan, karena mereka
berjuang keras untuk itu dengan kerja paruh waktunya bahkan sampai
mengorbankan waktu tidurnya. Semangat seperti itu yang mungkin masih
kurang di antara kita bangsa Indonesia.
Beasiswa pertama saya habis seiring dengan lulusnya
saya dari program S1. Untuk melanjutkan studi tentunya saya membutuhkan
beasiswa lain. Mencari beasiswa lain tidak mudah namun tetap
kemungkinan itu selalu ada. Walau tergantung universitasnya, namun
tawaran beasiswa untuk mahasiswa asing yang berbagai jenis macam dan
besarnya tetap ada. Walau sulit tentunya kemungkinan mendapat beasiswa
selalu terbuka. Di universitas saya, kebetulan tawaran beasiswa banyak
sekali, hanya saja karena di kampus saya banyak sekali mahasiswa asing
sehingga biasanya ada seleksi untuk tiap-tiap beasiswa yang memerlukan
rekomendasi dari universitas. Sebaliknya di universitas lain, walau
tawaran beasiswa sedikit, namun karena jumlah mahasiswa asingnya
sedikit, kesempatan mendapatkan beasiswa menjadi besar. Hanya siswa
yang lulus seleksi yang akan direkomendasikan universitas untuk bisa
mendaftar beasiswa tersebut. Selain melalui jalur kampus, ada juga
jenis beasiswa yang bisa diakses oleh setiap mahasiswa asing tanpa
melalui kampus, alias daftar langsung. Tentunya untuk memperoleh
beasiswa jenis ini pun ada seleksinya. Untuk beasiswa dengan cara
mendaftar langsung seperti ini, peran "menjual diri"
dalam bahasa
Jepang sangat signifikan dalam menulis formulir dan saat seleksi
wawancaranya. Beasiswa-beasiswa yang saya sebutkan ini biasanya datang
dari perusahaan-perusahaan, dan hampir semua tidak menyaratkan
perjanjian khusus setelah program beasiswa berakhir. Selain itu ada
beasiswa yang diberikan dari universitas.
Sebagai pengalaman pribadi, saya mendapat beasiswa
Epson selama 2 tahun setelah lulus seleksi di kampus dan
direkomendasikan universitas. Setelah direkomendasikan universitas,
biasanya kemungkinan mendapat beasiswa tersebut menjadi sekitar 90%.
Selain itu saya juga sedang mendapat beasiswa Tokyu melalui jalur
daftar langsung. Sebagai gambaran saat saya mendaftar beasiswa Tokyu
itu perbandingan jumlah siswa yang lulus seleksi dan yang mendaftar
adalah 18/950. Program beasiswa lain biasanya hanya menyediakan 10
tempat untuk penerima beasiswa baru setiap tahunnya. Besar beasiswa
tiap-tiap program berbeda begitu pula dengan waktu penerimaan beasiswa,
ada yang satu tahun ada pula yang dua-tiga tahun.
Penyebaran informasi
Banyak teman-teman yang mengeluhkan tidak menyebarnya
informasi-informasi beasiswa terutama untuk lulusan SMA di
daerah-daerah menyebabkan penerima beasiswa terutama di masa lalu
terpusat untuk pelajar-pelajar di kota besar. Beruntunglah pelajar yang
sekolahnya menyediakan informasi-informasi tersebut, namun jelas tidak
semua sekolah seperti itu. Berkat internet, penyebaran informasi
beasiswa di Indonesia menjadi lebih baik dibanding 10 tahun lalu, yang
hanya bisa dibaca melalui pengumuman di surat kabar tertentu seperti
Kompas misalnya. Salah satu cara lain, adalah kontribusi penerima
beasiswa untuk menyebarkan informasi tersebut ke almamaternya. Cara ini
lah yang saya tempuh selama ini sebagai kontribusi saya kepada
almamater, mengingat saya juga mendapat beasiswa pertama kali melalui
SMA saya itu. Namun sayangnya tidak banyak yang melakukan cara
tradisional seperti ini dengan berbagai alasan. Cara lain untuk
memperoleh banyak informasi mengenai beasiswa di luar negeri terutama
untuk pasca sarjana, adalah melalui mailing list (milist)
beasiswa@yahoogroups.com yang memiliki member sampai ribuan banyaknya.
Saya yang juga member di mailing list sangat salut terutama kepada
moderator-moderator milist ini yang banyak mengshare berbagai
informasi beasiswa di situ.
Membaca tulisan-tulisan yang muncul di milist itu,
terasa bahwa semangat untuk sekolah di luar negeri bagi banyak orang
Indonesia meningkat yang mungkin perlu disimak bagi kita semua yang
sudah sukses mendapat beasiswa dan studi di luar negeri agar semangat
kita semua untuk belajar keras tidak luntur saat sudah tiba dan belajar
di luar negeri walaupun menemui berbagai kesulitan dalam hidup di
negara asing. Karena memang hidup di negara asing tidak mudah.
Catatan terakhir saya berikan kepada pencari beasiswa
yang berminat sekolah di Jepang. Yaitu jangan biarkan sikap 'ingin
selalu disuapi' dalam mencari informasi. Dengan adanya
internet,
informasi-informasi untuk kehidupan di Jepang misalnya tentunya semakin
mudah dicari, misalnya melalui situs berikut
http://www2.jasso.go.jp/index_e.html atau pengumuman tawaran beasiswa
http://www.dikti.org/beasiswa/. Membaca pertanyaan-pertanyaan yang
sering muncul di milist PPI-Jepang pun membuat saya perlu menekankan
agar pencari beasiswa lebih aktif dan mampu mendefinisikan studi dan
minat riset yang diinginkan. Karena kadang ada permohonan bantuan untuk
mencarikan contact Professor di bidang TI untuk bisa mendaftar beasiswa
Monbukagakusho untuk paska-sarjana misalnya tanpa penjelasan lebih
detil tentang bidang riset yang diminati, atau bahkan identitas
pribadinya. Orang lain pun tentunya akan sulit dan malas membantu kalau
tidak melihat kesungguhan pencari informasi. Yang terbaik adalah
usahakan mencari informasi sendiri melalui internet atau kalau tinggal
di Jakarta dan sekitarnya, bisa berkunjung ke Pusat Kebudayaan Jepang
misalnya untuk dapat bertanya lebih lanjut untuk studi ke Jepang dan
prosedur-prosedurnya. Lalu setelah usaha untuk mencari contact
Professor dilakukan namun tidak membuahkan hasil, barulah mencoba
bertanya. Namun tentunya jangan terlalu mengharapkan akan datangnya
jawaban dengan cepat. Karena tentunya orang lain yang berbeda bidang
keahliannya, tidak mampu memberikan saran, belum lagi karena kesibukan
orang yang ditanya.
Penutup
Biaya sekolah yang semakin tinggi dari tingkat Taman
Kanak-kanak sampai perguruan tinggi di Indonesia akhir-akhir terasa
begitu memprihatinkan. Bagi penulis hal itu menjadi ironis dengan
kenyataan bahwa dengan tinggal di Tokyo yang tahun ini kembali terpilih
sebagai kota yang termahal di dunia ternyata mengantarkan untuk tidak
sekedar lulus S1, namun juga S2 dan sekarang studi S3 tanpa biaya dari
orang tua. Semoga anak-anak Indonesia mendapat haknya untuk bisa
menikmati pendidikan dengan biaya yang terjangkau.
Asyik banget tuh....Chayyo Vey..!!!